Paris, 23
Januari 1996
Kabut tebal
masih menyelimuti Kota Paris, tak disangka saat itu pukul 1 siang. Annabell,
seorang gadis cantik, yang masih menginjak masa remaja, berambut hitam
keturunan Finland, Luxemburgh itu, masih terpaku dikursi taman selama 3 jam
lamanya. Ia masih saja teringat akan hal yang terjadi 4 jam lalu, ketika
dirinya memberikan penghormatan terakhirnya, pada Josh, calon suaminya. Tak disangka
Josh pergi meninggalkan dirinya begitu saja. Padahal, mereka akan melangsungkan
pemberkatan musim gugur mendatang.
Ketika
Annabell duduk termangu, datanglah seorang anak kecil, menghampirinya, anak itu
tampak manis, sepertinya ia ikut merasakan kesedihan Annabell.
“ Kenapa kau
menangis?” tanya Anak kecil itu, dengan polosnya.
Annabell tak
menjawab sepatah katapun. Dia hanya tersenyum dan meneteskan air mata.
“ Kau
kehilangan sesuatu? Aku bisa membantumu!” Jawab anak kecil itu dengan serius.
“ Siapa namamu anak manis?” Tanya Annabell tanpa menjawab pertanyaan
anak kecil itu.
“ Namaku Cindy, dan kau?” lagi – lagi cindy bertanya dengan akrabnya.
“ Annabell.” Jawab Annabel singkat.
“ Kau kehilangan sesuatu?” Tanya Cindy masih penasaran.
“ Tidak, aku hanya sedih. Seharian ini tak melihat sinar mentari.”
Jawab Annabell.
Annabell tau dia berbohong, namun, dia tak ingin anak sepolos dan
semanis itu, merasakan kesedihannya, akibat suasana duka yang sedang
dialaminya.
“ Ya, akupun juga, mentari tak terlihat bahagia.” Jawab Cindy
tiba-tiba.
“ Aku tahu itu. Apa mungkin mentari sedang bersedih?” Tanya Annabell
pada Cindy.
“ Entahlah aku juga tidak tahu. Tapi kata mama, mentari tak pernah
lelah dan berputus asa, walaupun awan kelam yang jahat itu menutupi cahayanya.”
Jawab Cindy .
Merekapun larut dalam percakapan hangat beberapa saat.
“Aku harus segera pulang!”
jawab Cindy.
“ Baiklah, aku pulang, sampai jumpa!” seru Cindy.
“ Sampai jumpa, terimakasih sudah bercakap denganku.” Jawab Annabell.
Tak disangka, 10 menit bercakap dengan seorang bocah yang polos,
Annabell telah mendapat pelajaran, akan kekuatan untuk tak mudah menyerah dan
tak mudah putus asa. Annabell merasa lega, dan memutuskan untuk pulang.
Diperjalanan pulang, di depan gereja dia bertemu dengan sepasang
kekasih, yang sepertinya baru saja melakukan pemberkatan. Hal itu terlihat dari
pakaian jas hitam sang pria, dan gaun yang anggun milik si wanita. Annabell
hanya dapat tersenyum kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa bahwa
hal itu aneh untuk dilakukannya.
Rumah Annabell tak begitu jauh dari pusat kota, hanya dengan berjalan
kakipun dapat ditempuh. Annabell hidup sendiri, sudah 2 tahun ini dia tinggal
di Paris, untuk melanjutkan perguruan tingginya, sebelumnya ia bersekolah
menengah, di Finlandia, dan menghabiskan masa kecilnya di Luxemburgh bersama
kedua orang tuanya. Annabell berdarah campuran, ibunya berkebangsaan Finlandia, dan Ayahnya berkebangsaan Luxemburgh, dia dilahirkan di Belanda, jadi, dia
telah menjelajah beberapa L’état di Eropa.
Malam itu, Annabell tidak dapat memjamkan mata barang sejenak. Ia
masih berfikir, siapa sebenarnya Cindy, si bocah manis yang menemuinya siang
tadi di taman.
“ Siapa Cindy sebenarnya? Kenapa dia begitu perhatian padaku?”
tanyanya dalam hati.
“ Kenapa aku tadi tak bertanya alamatnya, mungkin besok aku dapat
bertemu dengannya lagi, mungkin saja, dia setiap hari bermain ditaman.” Tebak
Annabell.
“ Baiklah, besok aku akan ke taman, siapa tahu, Cindy ada disana!”
Tebak Annabell lagi sembari menarik selimut, dan terlelap tidur.
***
Paris, 24 Januari 1996
Pagi yang dingin, Cindy memutuskan untuk
pergi ke taman barang sebentar, untuk bertemu dengan Cindy lagi. Sesampainya ia
di taman, ia duduk di bangku yang ia duduki kemarin, sembari menunggu
kedatangan Cindy. Namun aneh, sudah 2 jam ia disitu, Cindy belum juga nampak.
Setelah beberapa lama, Annabell tampak bosan, ia memutuskan pulang, dan kembali
lagi siang nanti.
“Mungkin saja Cindy mendatangi taman
setiap siang.” Pikir Annabell.
Hari ini tak sedingin dan sekelam hari
kemarin, cuaca hari ini cukup cerah. Jadi, Annabell memutuskan untuk sekalian
berbelanja di Pusat belanja terdekat. Setelah usai berbelanja, Annabell
memutuskan untuk pulang dan sarapan, kebetulan saat itu baru pukul 9.00, jadi
masih ada waktu untuk sarapan.
Annabell menyengajakan diri pulang
melewati taman tadi, sambil mengecheck, mungkin saja Cindy ada disana, namun
ketika Annabell melihat-lihat sekeliling area taman, tetap saja nihil. Cindy
belum juga terlihat. Annabell memutuskan pulang, untuk sarapan, dan kembali ke
taman siang nanti.
Ketika Annabell menikmati makan paginya,
terdengar ketukan pintu. Ternyata itu Liza, teman kuliahnya, mereka telah
bersahabat semenjak Annabell memasuki jenjang perguruan tinggi. Kebetulan Liza
dan Annabell mengambil fakultas yang sama, Sastra Perancis.
“ Liza, siang kemarin aku mengalami hal
yang aneh.” Seru Annabell setelah mempersilahkan Liza duduk.
“ Hal aneh? Memang ada apa?” Tanya Liza
mulai penasaran.
“ Aku bertemu dengan Cindy, seorang bocah
manis, yang datang tiba-tiba, dan melihatku sedang menangis mengingat Josh. Dia
sangat mudah berteman, dan akrab. Aku suka anak itu, sayangnya, aku lupa
menanyakan alamatnya. Pagi tadi aku memutuskan pergi ke taman, dengan harapan
bertemu lagi denggannya, tapi sayang, dia tak terlihat.” Jawab Annabell panjang
lebar menjelaskan.
“ Cindy?, dari namanya memang sudah
terlihat ia anak yang manis, baik, dan ramah, aku jadi penasaran, apa yang ia
bicarakan?” Tanya Liza diliputi rasa penasaran.
“ Dia menghiburku, dia mengatakan bahwa
mentari tak pernah menyerah dan berputus asa. Aku tahu dia menghiburku, dan tak
lama kami bercakap-cakap, dia memutuskan untuk pulang.” Jelas Annabell.
“ Begitu, entahlah, sepertinya aku La population asli
daerah ini, belum pernah bertemu dengannya, mungkin dia pendatang baru.!” Tebak
Liza.
“ Mungkin saja…” Jawab Annabell singkat.
“ Hei, ngomong-ngomong memang kemarin,
cuaca sedang buruk.” Jawab Liza mengalihkan topik pembicaraan.
“ Ya, aku bahkan belum mencucikan
pakaianku 2 hari ini, udara terasa begitu dingin kemarin.” Timpal Annabell.
“ Annabell bolehkah aku meminta segelas
air ?!” pinta Liza.
“ Oh… tentu, kenapa tidak?! Tunggu
sebentar, akan kuambilkan!” jawab Annabell.
Tak lama Annabell datang membawa satu
gelas air, dan satu kotak cokelat, untuk mereka makan berdua. Sebenarnya
kedatangan Liza adalah untuk mengajak Annabell, mengerjakan skripsi musim semi.
Mereka berdua mengerjakan skripsi itu dengan gembira. Hingga akhirnya, usai
sudah tugas mereka. Jam menunjuk pukul 12.30, saatnya bagi Liza untuk pulang,
dan kuliah. Kebetulan ia mendapat jadwal piket siang. Sedang Annabell sedang
dijadwal liburan selama 1 minggu lamanya.dan ini hari terakhirnya menikmati
liburan.
“ Annabell terimakasih, cokelat dan
airnya, aku pulang dulu, Bye…” salam Liza.
“ Sama – sama Bye….” Jawab Annabell.
Setelah usai membereskan barang – barang
keperluan tugasnya, Annabell bergegas bersiap menuju taman, untuk bertemu Cindy
lagi, namun tak ada perubahan, begitu Annabell tiba di taman, Cindy tak
terlihat sama sekali. Hanya ada beberapa anak – anak kecil yang bermain ditaman
itu.
“ Aneh, dihari yang cerah seperti ini,
kenapa Cindy tak terlihat?!” Batin Annabell.
“ Apa mungkin, dia sakit?!” Annabell masih
diliputi rasa penasaran yang teramat sangat.
Akhirnya, setelah menunggu cukup lama,
hingga pukul 04.00, Annabell memutuskan pulang, ia sangat ingin kembali lagi
besok, sayangnya dia ada pelajaran kuliah pagi besok. Dan hal itu harus
berlangsung selama 3 minggu lamanya, apalagi, dia berjanji pada Ayah dan
Ibunya, apabila ia telah selesai kuliah selama 3 minggu setelah masa liburannya,
dia akan pergi mengunjungi orang tuanya, di Luxemburgh. Itu berarti, dia harus
meninggalkan Perancis, Liza, bahkan Cindy, selama lebih dari 4 bulan lamanya.
***
Paris, 25 Januari 1996
Pagi itu, Annabell terburu-buru pergi
kuliah, dia terlambat bangun. Karena jarak, sekolah dan rumah yang cukup jauh,
dan waktu yang terbatas, akhirnya Annabell berangkat dengan mengendarai
mobilnya, Kedua Orang tuanya memfasilitasi dirinya, dengan sebuah mobil
keluaran terbaru, maklum Keluarga Annabell dapat dikatakan keluarga Menengah
atas, jadi tidak masalah untuk memfasilitasi seseorang, hanya dengan sebuah
mobil.
Namun, alangkah sialnya Annabell di pagi
yang tergesa-gesa itu, ketika dia melewati taman, tanpa sengaja dia menengok
bangku yang biasa ia duduki, di bangku itu, duduk Cindy sendirian, seperti
sedang menunggu kedatangan sesorang. Inginnya Annabell turun dan menemui Cindy,
tapi sanyang pagi itu, Annabell tergesa-gesa mengejar waktu. Lagi pula pagi
itu, Kota Paris kembali kelam di selimuti kabut tebal, padahal saat itu sudah
pukul 08.15 pagi. Dengan kecewa, Annabell terus melaju, menuju sekolahnya.
“ Aneh! Sungguh aneh!” Gumam Annabell,
diperjalanan menuju sekolahnya.
“ Mengapa harus ada Cindy, di waktu yang
tidak tepat seperti ini!” gumamnya lagi.
“ dan…. Kenapa, dia tidak terlihat dihari
yang cerah kemarin..?!” tanya Annabell heran.
Sesampainya, di sekolah, ia nyaris
terlambat, tapi untung saja, tidak ada halangan di perjalanan, sehingga ia
tepat waktu.
Beberapa jam dia menghabiskan waktu
disekolah, kini saatnya untuk kembali pulang. Jam menunjuk pukul 03.00 siang.
Dia pulang melewati taman itu lagi. Namun, sayang Cindy sudah tak terlihat.
Annabell terus melajukan mobilnya tanpa berhenti, hingga akhirnya dia sampai
dirumah.
Paris, 15 Februari 1996
Tiga minggu telah berlalu, dan tiga minggu
juga Annabell tak berjumpa dengan Cindy. Rasa rindu akan keakraban anak itu
muncul, apalagi, besok pagi Annabell sudah harus terbang ke Luxemburgh, untuk
berlibur, di Le
domicile ayahnya. Annabell memutuskan, sebelum ia
berangkat, dia akan menunggu Cindy ditaman, barang sebentar. Malam ini Annabell
telah berbenah, dan mengemasi barang-barang yang akan dibawanya ke Luxemburgh
besok.
“ Kenapa Cindy lama tak terlihat? Aku
makin penasaran saja!” batin Annabell dalam hati
Setelah usai mengemasi barang-barang,
Annabell lekas tidur, dia memang tidur lebih awal, agar pagi besok, tidak
tertinggal keberangkatan Pesawat, yang telah dijadwalkan, terbang menuju
Luxemburgh, pukul 06.30 pagi. Annabell tidur dengan lelapnya.
“ Kring…… kring….. kring….” Alarm
berbunyi, sekitar pukul 05.00 pagi. Annabell lekas beranjak bangun dari
ranjangnya, dan lekas mandi. Setelah mandi, Annabell langsung menuju taman.
Demi bertemu Cindy, Annabell bahkan menyempatkan dirinya untuk tidak menyantap
sarapannya.
Taman masih sangat sunyi, dan sepi,
sepertinya belum ada seorangpun yang mendatangi taman itu pagi ini.
“ Kau mencariku?” terdengar suara
mengejutkan Annabell.
“ Cindy?! Kau kah itu?” seru Annabell
spontan.
“ Dunia sangatlah luas, waktupun sangat
terasa lama. Kemana saja kau 3 minggu ini?” tanya sosok yang mendekati
Annabell. Sosok itu seperti Cindy, hanya tak begitu jelas, karena tertutup oleh
tebalnya kabut pagi itu.
“Cindy?!” jawab Annabell spontan.
“ Ya ini aku, ada apa kau mencariku?”
tanya sosok itu, yang memang ternyata Cindy.
“ Cindy?!, kemana saja kau aku mencarimu
selama 3 minggu, namun kau, tak pernah terlihat?!” Tanya Annabell penasaran.
“ Aku hanya sedang bosan keluar rumah.”
jawab Cindy dengan senyuman kecil.
“ Aku datang, hanya ingin berpamitan,
denganmu.” Kata Annabell.
“ Ya aku tahu, kau ingin pergi ke
Luxemburgh?!” Tanya Cindy mengejutkan Annabell.
“ Bagaimana kau tahu?! Aku tak pernah
bercerita sebelumnya?!” Annabell keheranan.
“ Entahlah, hanya menebak saja.” Jawab
Cindy singkat.
“ Cokelat itu untukku?!” Tanya Cindy yang
melihat Annabell membawa sekotak cokelat.
“ Oh… tentu, ini untukmu.” Jawab Annabell,
sembari menyodorkan sekotak cokelat itu.
“ Terimakasih, jangan lupakan aku, dan
kota ini.” Pinta Cindy tiba-tiba.
“ Tidak. Aku tak akan pernah melupakanmu,
bahkan kota yang telah mempertemukan kita berdua.” Jawab Annabell, sembari
memeluk tubuh mungil Cindy.
“ Baiklah, lekaslah pergi, jangan sampai
kau tertinggal penerbangan.” Nasehat Cindy.
“ Baiklah, Selamat Valentine!” Annabell
mengangguk seraya mencium kening Cindy.
“ Selamat Valentine juga, berhati-hatilah,
salam untuk keluargamu di Luxemburgh.” Ucap Cindy, membuat Annabell meneteskan
air mata.
“ Selamat tinggal!” Pamit Annabell pada
Cindy.
Cindy hanya mengangguk dan melambaikan
tangannya.
Annabell melangkah meninggalkan Cindy.
Sebenarnya Annabell masih ingin bercakap-cakap lagi dengan Cindy. Tapi sayang,
saat itu waktu yang tidak tepat. Annabell ingin sekali mengetahui alamat rumah
Cindy. Beberapa langkah Annabell meninggalkan Cindy, Annabell menengok ke arah
belakang, mungkin saja Cindy masih mengantarkan kepergiannya. Namun, ketika ia
menengok ke belakang, Cindy telah menghilang begitu saja.
Waktu telah menunjukkan pukul 06.00
saatnya Annabell bergegas menuju bandara. Sesampainya ia di bandara, saat itu
juga pesawat yang akan ia naiki, segera lepas landas. Akhirnya Annabell duduk
dibangku pesawat yang akan segera lepas landas, dalam hitungan beberapa detik
itu.
Kebetulan tempat duduk Annabell, berada
didekat jendela, sehingga ia dapat melihat pemandangan luar. Ketika pesawat
mulai berjalan pelan untuk lepas landas, tiba-tiba Annabell dikejutkan oleh
Cindy, yang melambaikan tangan di sisi lapangan landas udara. Annabell terkejut
bukan main. Ia terpaku menatap Cindy, ia tak melambaikan tangannya. Ia pikir
hal itu hanyalah halusinasinya sendiri. Beberapa saat kemudian, pesawat mulai
berjalan begitu cepat hingga akhirnya lepas landas. Annabell dengan yakinnya,
menduga hal itu hanyalah halusinasinya, hanyalah sebuah Imajinasi, namun,
sepertinya hal itu adalah halusinasi yang salah.
“ Siapa yang melambaikan tangan tadi?”
tanya seorang ibu yang duduk disampingnya.
Annabell sangat terkejut, jika itu
halusinasi, dan Imajinasi belaka, bagaimana bisa ibu yang duduk disebelahnya
juga dapat melihat, seorang bocah yang melambaikan tangannya pada Annabell.
“ Oh, itu adikku!” jawab Annabell yang
masih terkejut spontan.
Pesawatpun mengudara, dan lekas menuju
Luxemburgh.
***
“ Kemana tujuanmu nak?” tanya ibu
disebelahnya.
“La
ville Alexander. Anda sendiri?” tanya Annabell
basa-basi.
“La
village Olive.”
Jawab ibu itu singkat.
“ Tadi itu adikmu, dia sungguh cantik dan
manis.” Tanya ibu itu lagi.
“ Ya, banyak sekali orang yang mengatakan
hal itu.” Jelas Annabell.
“ Siapa namamu nak?” Tanya ibu itu dengan
ramah.
“ Annabell, Anda?” Jawab Annabell sembari
bertanya.
“ Annabell?! Nama yang bagus, umm… aku
Teresha” Jawab ibu itu sembari memuji Annabell.
“ Terimakasih banyak. Menemui siapa Anda di
Olive regency?” tanya Annabell.
“ Aku pulang ke kampung halaman, Paris
terasa asing, sudah 19 tahun aku tinggal di Paris, namun, masih saja terasa
asing. apalagi, jika aku teringat akan
anakku.” Jawab Nyonya Teresa panjang lebar.
“ Memang kemana anakmu?” Tanya Annabell
penasaran.
“ Dia pergi ke Singapura, sudah 5 tahun
ini, tak ada kabar .” Jawab Nyonya Teresa.
“ Maafkan aku, aku sungguh tak bermaksud…”
jawab Annabell merasa tidak enak.
“ Tak apa. “ kata Nyonya Teresa, memotong
pembicaraan Annabell.
“ Aku juga merasa tidak begitu nyaman di
Paris.” Jelas Annabell mengganti topik pembicaraan.
“ Kenapa? Bukankah Paris adalah pusat mode
dunia?! Hal yang sangat disukai remaja seusiamu?! ” Tanya Nyonya Teresa
penasaran.
“ Ya, tetapi hal yang membuat diriku merasa
tak nyaman, adalah cuaca buruk kota yang akhir-akhir ini terjadi.” Jelas
Annabell lagi.
“ Ya. Kau benar, kabut tebal selalu
menyelimuti Paris.” Kata Nyonya Teresa melanjutkan.
“ Kau tahu penyebabnya?!” tanya Annabell.
“ Angin barat yang bertiup melewati Kora
Paris, yang membawa sedikit awan Comolonimbus barat, sehingga terjadilah awan
kelam, dan angin.” Jawab Nyonya Teresa menjelaskan.
Annabell hanya menganggukkan kepala, tanda
dia paham.
Pesawat sudah terbang lebih tinggi, tiba –
tiba Annabell mengamati seorang wanita berambut cokelat panjang, yang
mengenakan gaun, duduk di bangku pesawat sendirian, tampaknya dia sedang
menagis.
Annabell merasa kasihan, dan ingin tahu
apa yang terjadi. Kebetulan seorang Pramugari lewat. Annabell memberhentikan
Pramugari yang sedang berjalan itu.
“ Selamat siang, ada yang bisa saya
bantu?” Tanya Pramugari itu dengan ramahnya.
“ Maaf, aku ingin bertanya mengapa ibu itu
menangis?” tanya Annabell pada pramugari.
“ Mohon maaf ibu, yang mana?” tanya
Pramugari yang penasaran.
“ Ibu itu…..” Annabell menunjuk ibu yang
tadi dia lihat sedang menangis. Namun, ketika ia menunjuk bangku yang diduduki
ibu itu tadi, hanya ada seorang Anak kecil yang sedang tertidur lelap, dengan
ayahnya yang sedang membaca duduk disebelahnya.
Kontan Annabell terkejut bukan main.
“ Oh…. Maaf aku salah lihat!” Jelas
Annabell pada pramugari itu.
“ Baiklah kalau begitu, selamat menikmati
perjalanan anda.” Jawab Pramugari.
2 jam telah
berlalu, ketika, Pesawat telah memasuki wilayah Luxemburgh.
Terlihat
jelas cuaca Luxemburgh sangatlah kontras, dengan apa yang sedang terjadi di
Paris saat itu. Akhirnya, Pesawat telah sampai bandara.
“ Mohon perhatian, pesawat akan segera take on,
pada Bandara Internasional Luxemburgh. Pasang sabuk pengaman anda, agar anda
aman. Perjalanan telah memakan waktu 2 jam 4 menit 35 detik, sekarang jam
menunjukkan pukul 9.30 waktu Luxemburgh, waktu berselisih 1 jam dengan waktu
Paris, Prancis. Terimakasih, telah menggunakan jasa penerbangan France
Airlines. Semoga hari anda menyenangkan.”
Terdengar informasi dari pramugari pesawat.
Dengan
sedikit terkejut, Annabell terbangun dari tidurnya.
Begitu
pesawat mendarat, Annabell lekas turun dan mencari kendaraan, yang bisa
mengantarkannya, sampai kampung halaman ayahnya. Akhirnya Annabell menaiki
sebuah taksi. Tak berapa lama ia menaiki
taksi, ia telah sampai di kampung halaman ayahnya, di Precoroden, negara bagian
Alexander, Luxemburgh.
Alexander, 15
Februari 1996
Betapa
bahagianya, Ayah dan Ibu Annabell, begitu melihat Anak mereka, Annabell turun
dari taksi, Ibu Annabell langsung menyambut kedatangan Annabell, dengan
senyumannya, yang membuat rasa lelah pada Annabell hilang.
“ Annabell!
Bagaimana kabarmu sayang?!” tanya ibu Annabell, sembari mencium kening
Annabell.
“ Aku
baik-baik saja.” Jawab Annabell yang masih menggendong tas, dan menggeret
sebuah tas koper.
“ Masuklah!
Ibu telah menyiapkan makan malam untukmu!” Bujuk Ibu Annabell.
“ Biar Ayah
yang memasukkan tasmu, dan menyiapkan kamar untukmu!” Kata ayah Annabell.
Begitu
Annabell, memasuki rumah orang tuanya itu, terasa suasana zaman dahulu, yang
mengingatkan Annabell, ketika dia masih duduk di bangku sekolah dasar.
Sudah
bertahun- tahun Annabell tidak mengunjungi rumah ayahnya itu. Tak ada yang
berubah dari rumah itu, bentuk dan warna catnya masih sama seperti dulu, hanya
beberapa perabotan yang berubah posisi saja. Annabell memutuskan untuk mandi
terlebih dahulu. Begitu dia selesai mandi, Anabell dan kedua orang tuanya mekan
malam bersama, ditemani suasana Desa Precoroden yang sunyi. Maklumlah, didesa
itu hanya ada beberapa rumah warga, sisa wilayah, dipakai untuk menanam
pepohonan yang menghasilkan. Malam itu mereka makan makanan kesukaan Annabell,
steak bakar, yang dimakan bersama tomat dan selada.
“ Bagaimana
kuliahmu di Paris sayang ?” tanya ibu Annabell sembari menyantap makan malam,
yang dia buat sendiri.
“ Baik ma,
aku sudah masuk semester 5, dan mungkin Juli, aku akan menyelesaikan skripsi
akhirku, sehingga Agustus aku masuk pada semester 6.” Jawab Annabell.
“ Anabell,
ayah lupa, kau kuliah mengambil fakultas apa?” tanya ayah Annabell yang lupa
akan fakultas yang diambil anaknya itu.
“ Tadinya aku
ingin mengambil fakultas Ilmu Hukum, tapi, sepertinya aku belum begitu
tertarik, sehingga kini aku masuk pada fakultas Ilmu bahasa, dan sastra
Prancis.” Jawab Annabell panjang lebar.
“ Ilmu
sastra?! Sepertinya menarik. Apa yang kau pelajari di Ilmu itu?” Tanya Ibu
Annabell yang masih penasaran.
“ Banyak! Aku
tahu itu, sama seperti aku dahulu saat kuliah, mengambil Ilmu Sastra
Luxemburgh. Yang aku pelajari,adalah bahasa nasional, kebudayaan, dan….” Jawab
Ayah Annabell tiba – tiba.
“ Kau ini!
Aku sedang bertanya pada Annabell, bukan padamu!” Jawab ibu sedikit jengkel.
Annabell
hanya tertawa geli, melihat tingkah orang tuanya.
“ Iya ma,
sama seperti yang ayah katakan, Ilmu bahasa Perancis, dan Kebudayaan Perancis.”
Jawab Annabell menjelaskan.
“ Bukankah
kurang satu?!” Tanya Ayah Annabell tiba – tiba.
“ Apa?!”
Jawab Annabell penasaran.
“ Jangan
lupakan sejarah, dan kisah rakyat.” Jawab Ayah Annabell.
“ Aku tidak
pernah, diterangkan hal semacam itu!” Jelas Annabell.
“ Apakah
iya?!, seluruh Universitas di Eropa, telah menerapkan suatu kurikulum
kebudayaan, yang telah berlaku sejak 10 Juni 1994. Yang berisi penjelasan
sejarah suatu negara, dan kisah rakyat yang ada!” Jawab Ayah Annabell
menjelaskan dengan yakinnya. Maklumlah ayah Annabell telah 4 tahun bekerja pada
departemen kebudayaan dan kependidikan Luxemburgh.
“ Benar! Aku
belum pernah diajarkan akan hal itu!” Jelas Annabell penasaran.
“ Seharusnya,
hal itu dipelajari pada semester 2 dan 3. Tapi entahlah, mungkin peraturan di
Paris, berbeda.” Terang Ayahnya.
Setelah usai
makan malam, Annabell lekas masuk kamar tidurnya, dan lekas tidur. Namun,
Annabell masih kebingungan dengan materi kuliah yang belum ia terima, seperti
kata ayahnya. Akhirnya Annabell menghubungi Liza.
“ Hallo,
Liza?” tanya Annabell melalui Handphonenya.
“Hai,
Annabell, bagaimana perjalananmu?” tanya Liza begitu perhatian.
“ Lancar –
lancar saja.” Jawab Annabell.
Begitu Liza bertanya
soal perjalanan, tiba – tiba Annabell teringat seorang ibu menangis, yang ia
lihat dipesawat siang tadi.
“ Liza, aku
ingin bertanya, apakah menurutmu, ada pesawat terbang yang berhantu?”
“ Ha?!
Pesawat berhantu? Aneh…. Sepertinya aku belum pernah mendengan hal itu, yang
pernah kudengar hanyalah pemakaman, dan rumah yang berhantu, tapi, kalau
pesawat berhantu…. Itu terdengar sangat aneh. Omong – omong kenapa kau tiba –
tiba bicara soal pesawat berhantu, ada kejadian di perjalananmu?” Jelas Liza
sembari bertanya dengan penasaran.
Annabellpun
menceritakan kejadian yang ia alami di pesawat siang tadi.
“ Itu
mengerikan, mungkin kau kecapekan.” Jelas Liza.
“ Tapi, aku
melihatnya dengan yakin bahwa itu ada!” timpal Annabell
“ memang
misterius, atau mungkin ibu itu pergi ke toilet?” terang Liza.
“ Entahlah,
mungkin….” Jawab Annabell tidak yakin.
“ Oh iya
Liza, aku ingin bertanya, apakah kita pernah diterangkan Ilmu sejarah dan
cerita rakyat.” Tanya Annabell penasaran.
“ Belum.
Sepengetahuanku, Ilmu itu akan kita pelajari, di akhir semester. Tepat 1 minggu
sebelum Ujian Akhir.” Jelas Liza.
“ Oh begitu,
baiklah terimakasih.” Jawab Annabell lega.
“ Sama – sama
“ Sahut Liza, sembari menutup pembicaraan melalui Handphone.
Annabell
lekas tidur, malam itu.
***
Bandara
Alexander, 4 Juli 1996
“Ibu aku
berangkat.” Pamit Annabell yang akan berangkat ke Paris.
“ Hati – hati
sayang, jaga keselamatanmu, semoga sukses, ibu sayang padamu.” Jawab Ibu
Annabell, sembari meneteskan air mata, dan memeluk Annabell erat – erat.
Tak terasa
hampir 5 bulan Annabell tinggal bersama kedua Orang tuanya, di Luxemburgh.kini
saatnya bagi Annabell untuk berpamitan, 3 hari lagi, Ia akan melanjutkan
kuliahnya.
“ Hati – hati
di perjalanan sayang.” Ucap Ayah Annabell.
“ Aku
berangkat! Selamat tinggal!” Ucap Annabell, sembari melambaikan tangan dan
memasuki pesawat, yang akan segera terbang ke Paris.
“ Didalam
pesawat, Annabell lagi – lagi duduk di pinggir jendela. Dia melambaikan tangan
pada kedua orang tuanya, tanda perpisahan.
Pesawat lekas
take off menuju Paris, Annabell terus melambaikan tangan pada kedua orang
tuanya, yang lambat laun, semakin tak terlihat, dan tertutup awan, karena
pesawat yang mulai terbang meninggalkan Alexander.
Tak terasa 2
jam berlalu.
“ Mohon perhatian, pesawat akan segera landing,
pada Bandara Internasional Paris Prancis. Pasang sabuk pengaman anda, agar anda
aman. Perjalanan telah memakan waktu 2 jam 10 menit 57 detik, sekarang jam
menunjukkan pukul 9.00 waktu Prancis, waktu berselisih 1 jam dengan waktu
Luxemburg . Terimakasih, telah menggunakan jasa penerbangan Luxe Airlines.
Semoga hari anda menyenangkan.”
Telah
terdengar informasi dari pramugari, kini saatnya pesawat turun untuk landing.
Dari ketinggian itu Annabell dapat melihat menara Eiffle, yang menjulang tinggi,
yang saat itu cuaca cerah sedang menyinari kota Paris.
Begitu
Annabell turun dari pesawat, ia lekas menghubungi Liza, ia meminta Liza
menjemputnya dibandara. Tak lama, liza datang mengendarai mobilnya. Annabell
lekas memasuki mobil Liza, dan lekas pulang.
“ Cuaca yang
indah.” Ucap Annabell tiba –tiba.
“ Ya, sudah 1
minggu ini Paris cerah, tak seperti biasanya.” Jawab Liza.
“ Omong –
omong lama tak Rencontrer
dengan Cindy. Bagaimana keadaannya sekarang.”
Tanya Annabell pada dirinya sendiri.
“ Cindy?”
tanya Liza.
“ Si anak
misterius itu…” jawab Annabell mengingatkan.
Mendengar
misterius, liza langsung teringat pada hal yang dibicarakan Annabell beberapa
minggu lalu.
“ Hey,
bagaimana dengan ibu misterius itu?” tanya Liza.
“ Ibu
misterius?” kini Annabell yang lupa.
“ ‘hantu
pesawat’” Jelas Liza.
“ Oh… itu,
entahlah hingga kini aku masih belum tahu siapa dia, dan mengapa dia menangis.”
Jawab Annabell.
Tak berapa
lama akhirnya mereka berdua sampai di rumah Annabell.
“ Huh
lelahnya!” kata Annabell.
“ Liza, aku
ingin mandi, kau tunggu dulu disini.” Pinta Annabell.
“ Baiklah.”
Jawab Liza singkat.
Karena jenuh,
telah 20 menit menunggu Annabell mandi, liza membaca – baca surat kabar.
Tapi begitu
terkejutnya Liza,
“ Annabell!
Annabell! Cepatlah! Kau harus lihat ini!” teriak Liza.
“ Ada Apa! “
Annabell datang sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“ Lihat!
Berita ini! Sebuah pesawat France
Airlines, dengan nomor seri FA – 0887
ditemukan terjatuh dan terbakar, di Hutan Perechea, Paris. 103 penumpang
, 7 pramugari dan 2 orang pilot tewas!
Pihak Maskapai Paris, belum menemukan penyebab terjatuhnya pesawat!” Kata
Liza, yang membaca berita itu.
“ Itu
mengerikan !” timpal Annabell.
“ Ya! Sangat!
Kau beruntung tak mengalami hal itu! Tak ada yang selamat satupun!” Jawab Liza
lega mendapati temannya menaiki pesawat itu dengan selamat.
“ France
Airlines FA – 0887?” di pesawat itu lah aku melihat seorang ibu menangis!” kata
Annabell dalam hati.
***
Paris, 7 Juli
1996
Hari ini
Annabell kembali kuliah, ia telah menyelesaikan skripsinya kemarin, sehingga
bulan depan ia sudah menginjak semester 6. Setelah proses pembelajaran usai,
Annabell memutuskan pergi ketaman, untuk sedikit bersantai. Ditaman Annabell
teringat Cindy. Sudah 5 bulan ia tak bertemu Cindy, rasa rindu yang begitu
mendalam, membuat Annabell tak mampu mengingat- ingat seperti apakah Cindy
kini. Tiba – tiba, ditengah lamunannya, memikirkan Cindy, langit berubah gelap.
Hujanpun turun. Dengan tergesa – gesa dia pulang sembari berlari. Karena tergesa-gesa,
Annabell hingga lupa akan bukunya yang masih tergeletak di bangku taman. Baru
berlari beberapa meter, terdengar teriakan seorang anak kecil,
“ Annabell!
Bukumu tertinggal.” Seru anak itu.
Annabell
terhenti, dengan tergesa – gesa dia berbalik arah dan mengambil bukunya yang
telah dibawa oleh seorang anak kecil.
“ Terimakasih
banyak.” Kata Annabell sembari berbalik arah lagi, dan berlari pulang.
Tiba – tiba,
ia merasakan ada sesuatu yang sedikit aneh, yang baru saja terjadi.
“
Mungkinkah…..” Annabell menengok kearah belakang.
Namun bocah
yang entah siapa tadi sudah tidak terlihat.
Setibanya
dirumah, hujan semakin deras, sampai – sampai listrik padam.
Dengan
penerangan sebuah lilin, anabel duduk termenung, di ruang tengah, sembari
memikirkan hal yang baru saja terjadi.
“
Mungkinkah…. Anak itu Cindy?, tapi kenapa dia selalu muncul pada saat yang
tidak tepat. Jika dia bukan Cindy? Bagaimana dia tahu namaku?!” Tanya Annabell
dalam hati.
Annabell
merasakan hidupnya berubah begitu bertemu Cindy. Entah apa penyebabnya, namun
Annabell selalu merasa bahagia dan gembira, ketika Cindy ada disisinya.
Tak berapa
lama, hujan mulai reda, Annabell berniat membeli makanan ringan untuknya, di
supermarket. Annabell lekas mengendarai mobilnya, melewati taman, dan menuju
Supermarket. Namun, ada suatu peristiwa yang terjadi ditaman. Sebuah mobil
menabrak pohon, yang berada dipinggir jalan. Annabell begitu terkejut, melihat
mobil yang rusak parah itu, Annabell lekas turun, dan bertanya pada seorang
polisi yang berada di tempat kejadian perkara.
“ Permisi
pak, apa yang terjadi?” tanya Annabell penasaran.
“ Seorang ibu
mengendarai mobil dan menabrak pohon ini. Ibu itu berkata, dia lepas kendali,
dan membanting stir.” Jelas Pak Polisi.
“ Ibu itu
selamat?! Syukurlah, dimana ibu itu sekarang?” tanya Annabell lagi.
“ Itu, beliau
duduk dibangku taman.” Jawab Pak Polisi sembari menunjuk, seorang ibu yang
duduk menangis, dibangku taman.
“ Terimakasih
Pak.” Ucap Annabell.
Memang, dari
dulu Annabell selalu merasa iba pada korban kecelakaan, sehingga dia selalu
berusaha menghibur para korban agar lebih tenang.
“ Selamat
siang ibu,?” Sapa Annabell.
“ Selamat
siang.” Jawab ibu itu lirih, ditengah tangisnya.
Namun begitu
terkejutnya Annabell, ketika mendapati bahwa ibu korban kecelakaan itu adalah
Nyonya Teresa, yang beberapa bulan lalu membarengi Annabell di Pesawat
penerbangan menuju Luxemburgh.
“ Nyonya
Teresa! Ternyata Anda, apa yang terjadi?!” Tanya Annabell spontan sedikit
terkejut, mendapati ibu itu adalah Nyonya Teresa.
“ Kau… Annabell?”
tanya Nyonya Teresa juga terkejut, tanpa menjawab pertanyaan Annabell.
“ Ya saya
Annabell, sebenarnya apa yang terjadi, hingga mobil Anda menabrak sebuah
pohon?” Tanya Annabell penasaran.
“ Tadinya aku
berencana pergi ke Menara Eiffle, ketika melewati Cromlech, tiba – tiba aku
melihat seorang wanita berambut cokelat, mengenakan gaun putih yang tiba – tiba
saja duduk di kursi mobil belakang. Aku sangat terkejut, hingga sempat
memberhentikan mobilku, beberapa saat. Setelah merasa itu hanyalah imajinasiku,
aku lekas melajukan mobilku lagi. Namun, begitu sampai taman ini, aku
melihatnya lagi secara mendadak dia menyebrang jalan. Sehingga aku terkejut dan
membanting stir, dan akhirnya mobilku menabrak pohon itu.” Jelas Nyonya Teresa
panjang lebar.
“ Wanita,
berambut coklat, bergaun putih?!” Tanya Annabell meyakinkan.
“ Ya.” Jawab
Nyonya Teresa singkat.
“Apa mungkin
wanita itu yang aku lihat di pesawat?” batin Annabell.
“ Apakah
wanita itu menangis?” tanya Annabell.
“ Ya dia
nampak sedih dan kebingungan.” Jelas Nyonya Teresa.
“ Baiklah
kalau begitu, maaf aku terburu – buru, aku harus pergi.” Pamit Annabell
Annabell
langsung menlajukan mobilnya, menuju rumah sahabatnya, Liza.
“
tok….tok…tok….” Annabell mengetuk pintu.
“ Masuklah!”
jawab Liza dari dalam.
“ Hai Liza,
ada hal penting yang harus aku bicarakan!” jelas Annabell tiba – tiba.
“ Lihatlah
berita di televisi ini! Sebuah mobil, menabrak pohon di pinggir taman.” Jelas
Liza memberi Informasi.
“ Aku sedah
tau hal itu.” Jawab Annabell.
“ Hingga saat
ini pihak polisi masih mencari penyebab korban yang membating stir….” Lanjut
Liza.
“ Aku tahu
penyebabnya!” timpal Annabell, mengejutkan Liza.
“ Ha?! Dari
mana kau tahu?!” tanya Liza penasaran.
“ Barusan aku
sempat bertanya – tanya soal terjadinya kecelakaan mobil itu, pada Nyonya
Teresa.” Jelas Annabell.
“ Nyonya
Teresa?” tanya Liza, yang merasa tak mengenal Nyonya Teresa.
“ Ya seorang
ibu paruh baya, yang pernah menaiki pesawat bersamaku, menuju Luxemburgh
beberapa bulan lalu.” Jelas Annabell lagi.
“ Bagaimana
Kejadiannya?!” Tanya Liza yang masih saja penasaran.
Annabell
menceritakan apa yang diceritakan oleh Nyonya Teresa siang tadi, kepada Liza.
“ Wanita
bergaun putih, berambut cokelat!” Tanya Liza penasaran.
“ Bukankah
makhluk itu yang kau lihat di pesawat?!” Tanya Liza lagi.
“ Ya, oleh
karena itu, pertanyaannya, siapakah wanita bergaun putih itu?!” timpal Annabell
yang masih saja penasaran.
“ Hantukah?!”
tebak Liza tiba – tiba.
“ Entahlah
mungkin saja iya…” Jawab Annabel sedikit meyakinkan.
“ Astaga!
Sudah pukul 5! Aku harus segera membeli makanan ringan di supermarket! Aku
pamit, sampai jumpa!” Kata Annabell tiba –tiba sembari berpamitan pada Liza.
***
Paris, 1
Agustus 1996
Pagi yang
cerah, Annabell melajukan mobilnya menuju kampus. Pagi ini Annabell sangat bersemangat.
Hal itu dikarenakan, Pagi ini ia memasuki semester 7. Itu berarti Mata
Pelajaran budaya dan cerita rakyat yang selama ini selalu dia nanti, akan
segera dibahas.
Begitu ia
melewati taman kota, tiba – tiba ia teringat Cindy, tak terasa sudah setengah
tahun, dia tak bertemu Cindy. Ia sampai lupa seperti apakah wajah Cindy.
Sesampainya
di sekolah, Annabell lekas menemui Liza, dan memberitahukan materi pelajaran
kali ini. Namun Liza sudah mengetahuinya,
“ Aku tahu,
ada 7 kisah rakyat yang akan kita pelajari, Mercusuar Berhantu, Misteri Eiffle,
Teluk Tengkorak, Natal yang kelam, Si Kerudung Merah, John Raksasa Samudra,
dan….” Jelas Liza.
“ Kring…..
kring…. Kring…..” terdengar bunyi bel.
“ Oh…. Aku
belum mengambil buku sejarah di perpustakaan! Kau duluan saja, aku akan
menyusulmu!” pinta Liza tiba – tiba, tanpa melanjutkan penjelasannya.
Bel berbunyi,
pertanda pelajaran dimulai. Seorang Dosen paruh baya, yang terkenal sangat
ramah bernama Nyonya Fransisca, memasuki ruangan, dan menyapa para Mahasiswanya.
“ Bonjour! Elle
n’est pas si gentile que sa soeur!” sapa Nyonya
Fransisca dengan bahasa Prancisnya yang fasih.
Mendengar
perintahnya, mahasiswa mulai membuka halaman 56, dari Buku Pelajaran Budaya dan
Cerita Rakyat.
“
Baiklah kita mulai pelajaran kali ini, sebelumnya saya ucapkan selamat memasuki
jenjang semester akhir, yang mana, 1 bulan lagi Anda sekalian akan diwisuda.
Besar harapan saya, agar kalian bersungguh – sungguh mendalami ilmu yang selama
ini anda geluti, yaitu Sastra Perancis. Sebenarnya, seluruh Universitas di Eropa, telah menerapkan
suatu kurikulum kebudayaan, yang telah berlaku sejak 10 Juni 1994. Yang berisi
penjelasan sejarah suatu negara, dan kisah rakyat yang ada, yang umumnya
dipelajari pada semester 3. Namun, peraturan Departemen Kependidikan Paris,
mengubahnya menjadi Ilmu wajib pada semester akhir. Marilah kita mulai.” Jelas
Nyonya Fransisca Panjang lebar, seperti yang dikatakan Ayah Annabell beberapa
bulan lalu.
“ Kita masuk pada kebudayaan…” Nyonya Fransisca
mulai menerangkan.
Annabell selalu teringat oleh Cindy, sebenarnya
dimanakah Cindy tinggal, andai saja Annabell tahu, tentu ia tak akan serindu
ini.
40
menit berlalu. Kini saatnya materi memasuki Cerita Rakyat.
“ Kita memasuki cerita rakyat. Prancis memiliki
banyak kisah rakyat. Namun yang akan kita bahas, hanya 7 kisah yang terkenal
saja…. Yang pertama.”
Annabell memperhatikan materi yang diberikan
Nyonya Fransisca, dengan saksama. Ia tak ingin melewatkan satu kisahpun. Karena
bagi Annabell suatu cerita rakyat, adalah suatu dongeng indah baginya.
“ Yang ke – 6, John, raksasa Samudra. Kisah ini
berkembang setelah terjadinya revolusi Prancis. Kisah ini menceritakan….” Bu
Fransisca terus menerangkan.
“Dan yang tak kalah terkenal, yang terakhir
adalah, Cindy si misterius dalam kabut.” Jelas Nyonya Fransisca, mengejutkan
Annabell.
“ Cindy, si misterius dalam kabut?!” Tanya
Annabell dalam hati.
“ Meneritakan
seorang Anak kecil, berusia 7 tahun, yang bernama Cindy. Konon, suatu hari,
Cindy, dan Ibunya, Nyonya Eston, akan berngkat menuju Belanda, menaiki pesawat
terbang. Ketika mereka hampir ketinggalan pesawat, Nona Eston berlari kecil.
Namun Cindy, anaknya malah menuju taman dan bermain dengan seekor kucing yang
lucu. Begitu ibunya sudah berada didalam pesawat, dan pesawat telah mengudara,
Nyonya Eston baru tersadar bahwa, Cindy anaknya, tidak ikut serta. Nyonya
Eston, sangat terkejut, mendapati putri semata wayangnya, tertinggal di Paris.
Nyonya Eston hanya dapat menangis, sepanjang perjalanan udara itu. Hingga
akhirnya pesawat yang dinaiki Nyonya Eston, mengalami kecelakaan maut, pesawat
itu kehabisan bahan bakar, yang terjun bebas, terjatuh dan meledak. seluruh
orang yang menaikinya tewas, termasuk Nyonya Eston. Mulai sejak itu, dikisahkan
Roh Nyonya Eston yang menangis, selalu terlihat ditengah – tengah penumpang
pesawat. Di kisahkan Roh Nyonya Eston bergentayangan, mencari Anaknya Cindy.
Namun di kisahkan Cindy telah tewas, tertabrak sebuah mobil di pinggiran taman.
Hingga kini, diceritakan Roh Nyonya Eston membalas dendam pada setiap mobil
yang melaju di pinggir taman Paris, dengan membuat mobil itu mengalami insiden
yang tak terduga.Cindypun juga dikisahkan menjadi Roh gentayangan, yang selalu
menghibur orang yang menangis ditaman itu. Kata banyak orang, Cindy akan muncul
ditaman Paris, ketika cuaca sedang tidak bersahabat, yaitu ketika langit kelam,
turun hujan, dan suasana kota yang berkabut, saat itulah Roh Cindy datang ke
dunia, untuk menghibur orang – orang yang menagis ditaman itu. ‘mentari tak
pernah lelah dan berputus asa, walaupun awan kelam yang jahat itu menutupi
cahayanya.’ Itulah konon kalimat yang sangat sering diucapkan Cindy. Hingga
kini kisah itu belum terbukti ada.” Bu Fransisca terus menjelaskan panjang
lebar.
“ Kisah itu belum terbukti…?! Kisah itu,
membuktikan jawaban beberapa kejadian! ” Batin Liza, sembari mengamati
Annabell.
Annabell hanya terdiam terpaku, mendengar kisah
rakyat itu.
“ Itu berarti……” Batin Annabell dalam hati.
Bersambung
....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar