Sabtu, 09 Agustus 2014

CINDY SI MISTERIUS DALAM KABUT #1




Paris, 23 Januari 1996
Kabut tebal masih menyelimuti Kota Paris, tak disangka saat itu pukul 1 siang. Annabell, seorang gadis cantik, yang masih menginjak masa remaja, berambut hitam keturunan Finland, Luxemburgh itu, masih terpaku dikursi taman selama 3 jam lamanya. Ia masih saja teringat akan hal yang terjadi 4 jam lalu, ketika dirinya memberikan penghormatan terakhirnya, pada Josh, calon suaminya. Tak disangka Josh pergi meninggalkan dirinya begitu saja. Padahal, mereka akan melangsungkan pemberkatan musim gugur mendatang.
Ketika Annabell duduk termangu, datanglah seorang anak kecil, menghampirinya, anak itu tampak manis, sepertinya ia ikut merasakan kesedihan Annabell.
“ Kenapa kau menangis?” tanya Anak kecil itu, dengan polosnya.
Annabell tak menjawab sepatah katapun. Dia hanya tersenyum dan meneteskan air mata.
“ Kau kehilangan sesuatu? Aku bisa membantumu!” Jawab anak kecil itu dengan serius.
“ Siapa namamu anak manis?” Tanya Annabell tanpa menjawab pertanyaan anak kecil itu.
“ Namaku Cindy, dan kau?” lagi – lagi  cindy bertanya dengan akrabnya.
“ Annabell.” Jawab Annabel singkat.
“ Kau kehilangan sesuatu?” Tanya Cindy masih penasaran.
“ Tidak, aku hanya sedih. Seharian ini tak melihat sinar mentari.” Jawab Annabell.
Annabell tau dia berbohong, namun, dia tak ingin anak sepolos dan semanis itu, merasakan kesedihannya, akibat suasana duka yang sedang dialaminya.
“ Ya, akupun juga, mentari tak terlihat bahagia.” Jawab Cindy tiba-tiba.
“ Aku tahu itu. Apa mungkin mentari sedang bersedih?” Tanya Annabell pada Cindy.
“ Entahlah aku juga tidak tahu. Tapi kata mama, mentari tak pernah lelah dan berputus asa, walaupun awan kelam yang jahat itu menutupi cahayanya.” Jawab Cindy .
Merekapun larut dalam percakapan hangat beberapa saat.
 “Aku harus segera pulang!” jawab Cindy.
“ Baiklah, aku pulang, sampai jumpa!” seru Cindy.
“ Sampai jumpa, terimakasih sudah bercakap denganku.” Jawab Annabell.
Tak disangka, 10 menit bercakap dengan seorang bocah yang polos, Annabell telah mendapat pelajaran, akan kekuatan untuk tak mudah menyerah dan tak mudah putus asa. Annabell merasa lega, dan memutuskan untuk pulang.
Diperjalanan pulang, di depan gereja dia bertemu dengan sepasang kekasih, yang sepertinya baru saja melakukan pemberkatan. Hal itu terlihat dari pakaian jas hitam sang pria, dan gaun yang anggun milik si wanita. Annabell hanya dapat tersenyum kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa bahwa hal itu aneh untuk dilakukannya.
Rumah Annabell tak begitu jauh dari pusat kota, hanya dengan berjalan kakipun dapat ditempuh. Annabell hidup sendiri, sudah 2 tahun ini dia tinggal di Paris, untuk melanjutkan perguruan tingginya, sebelumnya ia bersekolah menengah, di Finlandia, dan menghabiskan masa kecilnya di Luxemburgh bersama kedua orang tuanya. Annabell berdarah campuran, ibunya berkebangsaan Finlandia, dan Ayahnya berkebangsaan Luxemburgh, dia dilahirkan di Belanda, jadi, dia telah menjelajah beberapa L’état di Eropa.
Malam itu, Annabell tidak dapat memjamkan mata barang sejenak. Ia masih berfikir, siapa sebenarnya Cindy, si bocah manis yang menemuinya siang tadi di taman.
“ Siapa Cindy sebenarnya? Kenapa dia begitu perhatian padaku?” tanyanya dalam hati.
“ Kenapa aku tadi tak bertanya alamatnya, mungkin besok aku dapat bertemu dengannya lagi, mungkin saja, dia setiap hari bermain ditaman.” Tebak Annabell.
“ Baiklah, besok aku akan ke taman, siapa tahu, Cindy ada disana!” Tebak Annabell lagi sembari menarik selimut, dan terlelap tidur.

***
Paris, 24 Januari 1996
Pagi yang dingin, Cindy memutuskan untuk pergi ke taman barang sebentar, untuk bertemu dengan Cindy lagi. Sesampainya ia di taman, ia duduk di bangku yang ia duduki kemarin, sembari menunggu kedatangan Cindy. Namun aneh, sudah 2 jam ia disitu, Cindy belum juga nampak. Setelah beberapa lama, Annabell tampak bosan, ia memutuskan pulang, dan kembali lagi siang nanti.
“Mungkin saja Cindy mendatangi taman setiap siang.” Pikir Annabell.
Hari ini tak sedingin dan sekelam hari kemarin, cuaca hari ini cukup cerah. Jadi, Annabell memutuskan untuk sekalian berbelanja di Pusat belanja terdekat. Setelah usai berbelanja, Annabell memutuskan untuk pulang dan sarapan, kebetulan saat itu baru pukul 9.00, jadi masih ada waktu untuk sarapan.
Annabell menyengajakan diri pulang melewati taman tadi, sambil mengecheck, mungkin saja Cindy ada disana, namun ketika Annabell melihat-lihat sekeliling area taman, tetap saja nihil. Cindy belum juga terlihat. Annabell memutuskan pulang, untuk sarapan, dan kembali ke taman siang nanti.
Ketika Annabell menikmati makan paginya, terdengar ketukan pintu. Ternyata itu Liza, teman kuliahnya, mereka telah bersahabat semenjak Annabell memasuki jenjang perguruan tinggi. Kebetulan Liza dan Annabell mengambil fakultas yang sama, Sastra Perancis.
“ Liza, siang kemarin aku mengalami hal yang aneh.” Seru Annabell setelah mempersilahkan Liza duduk.
“ Hal aneh? Memang ada apa?” Tanya Liza mulai penasaran.
“ Aku bertemu dengan Cindy, seorang bocah manis, yang datang tiba-tiba, dan melihatku sedang menangis mengingat Josh. Dia sangat mudah berteman, dan akrab. Aku suka anak itu, sayangnya, aku lupa menanyakan alamatnya. Pagi tadi aku memutuskan pergi ke taman, dengan harapan bertemu lagi denggannya, tapi sayang, dia tak terlihat.” Jawab Annabell panjang lebar menjelaskan.
“ Cindy?, dari namanya memang sudah terlihat ia anak yang manis, baik, dan ramah, aku jadi penasaran, apa yang ia bicarakan?” Tanya Liza diliputi rasa penasaran.
“ Dia menghiburku, dia mengatakan bahwa mentari tak pernah menyerah dan berputus asa. Aku tahu dia menghiburku, dan tak lama kami bercakap-cakap, dia memutuskan untuk pulang.” Jelas Annabell.
“ Begitu, entahlah, sepertinya aku La population asli daerah ini, belum pernah bertemu dengannya, mungkin dia pendatang baru.!” Tebak Liza.
“ Mungkin saja…” Jawab Annabell singkat.
“ Hei, ngomong-ngomong memang kemarin, cuaca sedang buruk.” Jawab Liza mengalihkan topik pembicaraan.
“ Ya, aku bahkan belum mencucikan pakaianku 2 hari ini, udara terasa begitu dingin kemarin.” Timpal Annabell.
“ Annabell bolehkah aku meminta segelas air ?!” pinta Liza.
“ Oh… tentu, kenapa tidak?! Tunggu sebentar, akan kuambilkan!” jawab Annabell.
Tak lama Annabell datang membawa satu gelas air, dan satu kotak cokelat, untuk mereka makan berdua. Sebenarnya kedatangan Liza adalah untuk mengajak Annabell, mengerjakan skripsi musim semi. Mereka berdua mengerjakan skripsi itu dengan gembira. Hingga akhirnya, usai sudah tugas mereka. Jam menunjuk pukul 12.30, saatnya bagi Liza untuk pulang, dan kuliah. Kebetulan ia mendapat jadwal piket siang. Sedang Annabell sedang dijadwal liburan selama 1 minggu lamanya.dan ini hari terakhirnya menikmati liburan.
“ Annabell terimakasih, cokelat dan airnya, aku pulang dulu, Bye…” salam Liza.
“ Sama – sama Bye….” Jawab Annabell.
Setelah usai membereskan barang – barang keperluan tugasnya, Annabell bergegas bersiap menuju taman, untuk bertemu Cindy lagi, namun tak ada perubahan, begitu Annabell tiba di taman, Cindy tak terlihat sama sekali. Hanya ada beberapa anak – anak kecil yang bermain ditaman itu.
“ Aneh, dihari yang cerah seperti ini, kenapa Cindy tak terlihat?!” Batin Annabell.
“ Apa mungkin, dia sakit?!” Annabell masih diliputi rasa penasaran yang teramat sangat.
Akhirnya, setelah menunggu cukup lama, hingga pukul 04.00, Annabell memutuskan pulang, ia sangat ingin kembali lagi besok, sayangnya dia ada pelajaran kuliah pagi besok. Dan hal itu harus berlangsung selama 3 minggu lamanya, apalagi, dia berjanji pada Ayah dan Ibunya, apabila ia telah selesai kuliah selama 3 minggu setelah masa liburannya, dia akan pergi mengunjungi orang tuanya, di Luxemburgh. Itu berarti, dia harus meninggalkan Perancis, Liza, bahkan Cindy, selama lebih dari 4 bulan lamanya.

***
Paris, 25 Januari 1996
Pagi itu, Annabell terburu-buru pergi kuliah, dia terlambat bangun. Karena jarak, sekolah dan rumah yang cukup jauh, dan waktu yang terbatas, akhirnya Annabell berangkat dengan mengendarai mobilnya, Kedua Orang tuanya memfasilitasi dirinya, dengan sebuah mobil keluaran terbaru, maklum Keluarga Annabell dapat dikatakan keluarga Menengah atas, jadi tidak masalah untuk memfasilitasi seseorang, hanya dengan sebuah mobil.
Namun, alangkah sialnya Annabell di pagi yang tergesa-gesa itu, ketika dia melewati taman, tanpa sengaja dia menengok bangku yang biasa ia duduki, di bangku itu, duduk Cindy sendirian, seperti sedang menunggu kedatangan sesorang. Inginnya Annabell turun dan menemui Cindy, tapi sanyang pagi itu, Annabell tergesa-gesa mengejar waktu. Lagi pula pagi itu, Kota Paris kembali kelam di selimuti kabut tebal, padahal saat itu sudah pukul 08.15 pagi. Dengan kecewa, Annabell terus melaju, menuju sekolahnya.
“ Aneh! Sungguh aneh!” Gumam Annabell, diperjalanan menuju sekolahnya.
“ Mengapa harus ada Cindy, di waktu yang tidak tepat seperti ini!” gumamnya lagi.
“ dan…. Kenapa, dia tidak terlihat dihari yang cerah kemarin..?!” tanya Annabell heran.
Sesampainya, di sekolah, ia nyaris terlambat, tapi untung saja, tidak ada halangan di perjalanan, sehingga ia tepat waktu.
Beberapa jam dia menghabiskan waktu disekolah, kini saatnya untuk kembali pulang. Jam menunjuk pukul 03.00 siang. Dia pulang melewati taman itu lagi. Namun, sayang Cindy sudah tak terlihat. Annabell terus melajukan mobilnya tanpa berhenti, hingga akhirnya dia sampai dirumah.

Paris, 15 Februari 1996
Tiga minggu telah berlalu, dan tiga minggu juga Annabell tak berjumpa dengan Cindy. Rasa rindu akan keakraban anak itu muncul, apalagi, besok pagi Annabell sudah harus terbang ke Luxemburgh, untuk berlibur, di Le domicile ayahnya. Annabell memutuskan, sebelum ia berangkat, dia akan menunggu Cindy ditaman, barang sebentar. Malam ini Annabell telah berbenah, dan mengemasi barang-barang yang akan dibawanya ke Luxemburgh besok.
“ Kenapa Cindy lama tak terlihat? Aku makin penasaran saja!” batin Annabell dalam hati
Setelah usai mengemasi barang-barang, Annabell lekas tidur, dia memang tidur lebih awal, agar pagi besok, tidak tertinggal keberangkatan Pesawat, yang telah dijadwalkan, terbang menuju Luxemburgh, pukul 06.30 pagi. Annabell tidur dengan lelapnya.
“ Kring…… kring….. kring….” Alarm berbunyi, sekitar pukul 05.00 pagi. Annabell lekas beranjak bangun dari ranjangnya, dan lekas mandi. Setelah mandi, Annabell langsung menuju taman. Demi bertemu Cindy, Annabell bahkan menyempatkan dirinya untuk tidak menyantap sarapannya.
Taman masih sangat sunyi, dan sepi, sepertinya belum ada seorangpun yang mendatangi taman itu pagi ini.
“ Kau mencariku?” terdengar suara mengejutkan Annabell.
“ Cindy?! Kau kah itu?” seru Annabell spontan.
“ Dunia sangatlah luas, waktupun sangat terasa lama. Kemana saja kau 3 minggu ini?” tanya sosok yang mendekati Annabell. Sosok itu seperti Cindy, hanya tak begitu jelas, karena tertutup oleh tebalnya kabut pagi itu.
“Cindy?!” jawab Annabell spontan.
“ Ya ini aku, ada apa kau mencariku?” tanya sosok itu, yang memang ternyata Cindy.
“ Cindy?!, kemana saja kau aku mencarimu selama 3 minggu, namun kau, tak pernah terlihat?!” Tanya Annabell penasaran.
“ Aku hanya sedang bosan keluar rumah.” jawab Cindy dengan senyuman kecil.
“ Aku datang, hanya ingin berpamitan, denganmu.” Kata Annabell.
“ Ya aku tahu, kau ingin pergi ke Luxemburgh?!” Tanya Cindy mengejutkan Annabell.
“ Bagaimana kau tahu?! Aku tak pernah bercerita sebelumnya?!” Annabell keheranan.
“ Entahlah, hanya menebak saja.” Jawab Cindy singkat.
“ Cokelat itu untukku?!” Tanya Cindy yang melihat Annabell membawa sekotak cokelat.
“ Oh… tentu, ini untukmu.” Jawab Annabell, sembari menyodorkan sekotak cokelat itu.
“ Terimakasih, jangan lupakan aku, dan kota ini.” Pinta Cindy tiba-tiba.
“ Tidak. Aku tak akan pernah melupakanmu, bahkan kota yang telah mempertemukan kita berdua.” Jawab Annabell, sembari memeluk tubuh mungil Cindy.
“ Baiklah, lekaslah pergi, jangan sampai kau tertinggal penerbangan.” Nasehat Cindy.
“ Baiklah, Selamat Valentine!” Annabell mengangguk seraya mencium kening Cindy.
“ Selamat Valentine juga, berhati-hatilah, salam untuk keluargamu di Luxemburgh.” Ucap Cindy, membuat Annabell meneteskan air mata.
“ Selamat tinggal!” Pamit Annabell pada Cindy.
Cindy hanya mengangguk dan melambaikan tangannya.
Annabell melangkah meninggalkan Cindy. Sebenarnya Annabell masih ingin bercakap-cakap lagi dengan Cindy. Tapi sayang, saat itu waktu yang tidak tepat. Annabell ingin sekali mengetahui alamat rumah Cindy. Beberapa langkah Annabell meninggalkan Cindy, Annabell menengok ke arah belakang, mungkin saja Cindy masih mengantarkan kepergiannya. Namun, ketika ia menengok ke belakang, Cindy telah menghilang begitu saja.
Waktu telah menunjukkan pukul 06.00 saatnya Annabell bergegas menuju bandara. Sesampainya ia di bandara, saat itu juga pesawat yang akan ia naiki, segera lepas landas. Akhirnya Annabell duduk dibangku pesawat yang akan segera lepas landas, dalam hitungan beberapa detik itu.
Kebetulan tempat duduk Annabell, berada didekat jendela, sehingga ia dapat melihat pemandangan luar. Ketika pesawat mulai berjalan pelan untuk lepas landas, tiba-tiba Annabell dikejutkan oleh Cindy, yang melambaikan tangan di sisi lapangan landas udara. Annabell terkejut bukan main. Ia terpaku menatap Cindy, ia tak melambaikan tangannya. Ia pikir hal itu hanyalah halusinasinya sendiri. Beberapa saat kemudian, pesawat mulai berjalan begitu cepat hingga akhirnya lepas landas. Annabell dengan yakinnya, menduga hal itu hanyalah halusinasinya, hanyalah sebuah Imajinasi, namun, sepertinya hal itu adalah halusinasi yang salah.
“ Siapa yang melambaikan tangan tadi?” tanya seorang ibu yang duduk disampingnya.
Annabell sangat terkejut, jika itu halusinasi, dan Imajinasi belaka, bagaimana bisa ibu yang duduk disebelahnya juga dapat melihat, seorang bocah yang melambaikan tangannya pada Annabell.

“ Oh, itu adikku!” jawab Annabell yang masih terkejut spontan.                      
Pesawatpun mengudara, dan lekas menuju Luxemburgh.

***

“ Kemana tujuanmu nak?” tanya ibu disebelahnya.
La ville Alexander. Anda sendiri?” tanya Annabell basa-basi.
La village Olive.” Jawab ibu itu singkat.
“ Tadi itu adikmu, dia sungguh cantik dan manis.” Tanya ibu itu lagi.
“ Ya, banyak sekali orang yang mengatakan hal itu.” Jelas Annabell.
“ Siapa namamu nak?” Tanya ibu itu dengan ramah.
“ Annabell, Anda?” Jawab Annabell sembari bertanya.
“ Annabell?! Nama yang bagus, umm… aku Teresha” Jawab ibu itu sembari memuji Annabell.
“ Terimakasih banyak. Menemui siapa Anda di Olive regency?” tanya Annabell.
“ Aku pulang ke kampung halaman, Paris terasa asing, sudah 19 tahun aku tinggal di Paris, namun, masih saja terasa asing. apalagi, jika aku teringat  akan anakku.” Jawab Nyonya Teresa panjang lebar.
“ Memang kemana anakmu?” Tanya Annabell penasaran.
“ Dia pergi ke Singapura, sudah 5 tahun ini, tak ada kabar .” Jawab Nyonya Teresa.
“ Maafkan aku, aku sungguh tak bermaksud…” jawab Annabell merasa tidak enak.
“ Tak apa. “ kata Nyonya Teresa, memotong pembicaraan Annabell.
“ Aku juga merasa tidak begitu nyaman di Paris.” Jelas Annabell mengganti topik pembicaraan.
“ Kenapa? Bukankah Paris adalah pusat mode dunia?! Hal yang sangat disukai remaja seusiamu?! ” Tanya Nyonya Teresa penasaran.
“ Ya, tetapi hal yang membuat diriku merasa tak nyaman, adalah cuaca buruk kota yang akhir-akhir ini terjadi.” Jelas Annabell lagi.
“ Ya. Kau benar, kabut tebal selalu menyelimuti Paris.” Kata Nyonya Teresa melanjutkan.
“ Kau tahu penyebabnya?!” tanya Annabell.
“ Angin barat yang bertiup melewati Kora Paris, yang membawa sedikit awan Comolonimbus barat, sehingga terjadilah awan kelam, dan angin.” Jawab Nyonya Teresa menjelaskan.
Annabell hanya menganggukkan kepala, tanda dia paham.
Pesawat sudah terbang lebih tinggi, tiba – tiba Annabell mengamati seorang wanita berambut cokelat panjang, yang mengenakan gaun, duduk di bangku pesawat sendirian, tampaknya dia sedang menagis.
Annabell merasa kasihan, dan ingin tahu apa yang terjadi. Kebetulan seorang Pramugari lewat. Annabell memberhentikan Pramugari yang sedang berjalan itu.
“ Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” Tanya Pramugari itu dengan ramahnya.
“ Maaf, aku ingin bertanya mengapa ibu itu menangis?” tanya Annabell pada pramugari.
“ Mohon maaf ibu, yang mana?” tanya Pramugari yang penasaran.
“ Ibu itu…..” Annabell menunjuk ibu yang tadi dia lihat sedang menangis. Namun, ketika ia menunjuk bangku yang diduduki ibu itu tadi, hanya ada seorang Anak kecil yang sedang tertidur lelap, dengan ayahnya yang sedang membaca duduk disebelahnya.
Kontan Annabell terkejut bukan main.
“ Oh…. Maaf aku salah lihat!” Jelas Annabell pada pramugari itu.
“ Baiklah kalau begitu, selamat menikmati perjalanan anda.” Jawab Pramugari.
2 jam telah berlalu, ketika, Pesawat telah memasuki wilayah Luxemburgh.
Terlihat jelas cuaca Luxemburgh sangatlah kontras, dengan apa yang sedang terjadi di Paris saat itu. Akhirnya, Pesawat telah sampai bandara.
“ Mohon perhatian, pesawat akan segera take on, pada Bandara Internasional Luxemburgh. Pasang sabuk pengaman anda, agar anda aman. Perjalanan telah memakan waktu 2 jam 4 menit 35 detik, sekarang jam menunjukkan pukul 9.30 waktu Luxemburgh, waktu berselisih 1 jam dengan waktu Paris, Prancis. Terimakasih, telah menggunakan jasa penerbangan France Airlines. Semoga hari anda menyenangkan.”
 Terdengar informasi dari pramugari pesawat.
Dengan sedikit terkejut, Annabell terbangun dari tidurnya.
Begitu pesawat mendarat, Annabell lekas turun dan mencari kendaraan, yang bisa mengantarkannya, sampai kampung halaman ayahnya. Akhirnya Annabell menaiki sebuah taksi.  Tak berapa lama ia menaiki taksi, ia telah sampai di kampung halaman ayahnya, di Precoroden, negara bagian Alexander, Luxemburgh.
Alexander, 15 Februari 1996
Betapa bahagianya, Ayah dan Ibu Annabell, begitu melihat Anak mereka, Annabell turun dari taksi, Ibu Annabell langsung menyambut kedatangan Annabell, dengan senyumannya, yang membuat rasa lelah pada Annabell hilang.
“ Annabell! Bagaimana kabarmu sayang?!” tanya ibu Annabell, sembari mencium kening Annabell.
“ Aku baik-baik saja.” Jawab Annabell yang masih menggendong tas, dan menggeret sebuah tas koper.
“ Masuklah! Ibu telah menyiapkan makan malam untukmu!” Bujuk Ibu Annabell.
“ Biar Ayah yang memasukkan tasmu, dan menyiapkan kamar untukmu!” Kata ayah Annabell.
Begitu Annabell, memasuki rumah orang tuanya itu, terasa suasana zaman dahulu, yang mengingatkan Annabell, ketika dia masih duduk di bangku sekolah dasar.
Sudah bertahun- tahun Annabell tidak mengunjungi rumah ayahnya itu. Tak ada yang berubah dari rumah itu, bentuk dan warna catnya masih sama seperti dulu, hanya beberapa perabotan yang berubah posisi saja. Annabell memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Begitu dia selesai mandi, Anabell dan kedua orang tuanya mekan malam bersama, ditemani suasana Desa Precoroden yang sunyi. Maklumlah, didesa itu hanya ada beberapa rumah warga, sisa wilayah, dipakai untuk menanam pepohonan yang menghasilkan. Malam itu mereka makan makanan kesukaan Annabell, steak bakar, yang dimakan bersama tomat dan selada.
“ Bagaimana kuliahmu di Paris sayang ?” tanya ibu Annabell sembari menyantap makan malam, yang dia buat sendiri.
“ Baik ma, aku sudah masuk semester 5, dan mungkin Juli, aku akan menyelesaikan skripsi akhirku, sehingga Agustus aku masuk pada semester 6.” Jawab Annabell.
“ Anabell, ayah lupa, kau kuliah mengambil fakultas apa?” tanya ayah Annabell yang lupa akan fakultas yang diambil anaknya itu.
“ Tadinya aku ingin mengambil fakultas Ilmu Hukum, tapi, sepertinya aku belum begitu tertarik, sehingga kini aku masuk pada fakultas Ilmu bahasa, dan sastra Prancis.” Jawab Annabell panjang lebar.
“ Ilmu sastra?! Sepertinya menarik. Apa yang kau pelajari di Ilmu itu?” Tanya Ibu Annabell yang masih penasaran.
“ Banyak! Aku tahu itu, sama seperti aku dahulu saat kuliah, mengambil Ilmu Sastra Luxemburgh. Yang aku pelajari,adalah bahasa nasional, kebudayaan, dan….” Jawab Ayah Annabell tiba – tiba.
“ Kau ini! Aku sedang bertanya pada Annabell, bukan padamu!” Jawab ibu sedikit jengkel.
Annabell hanya tertawa geli, melihat tingkah orang tuanya.
“ Iya ma, sama seperti yang ayah katakan, Ilmu bahasa Perancis, dan Kebudayaan Perancis.” Jawab Annabell menjelaskan.
“ Bukankah kurang satu?!” Tanya Ayah Annabell tiba – tiba.
“ Apa?!” Jawab Annabell penasaran.
“ Jangan lupakan sejarah, dan kisah rakyat.” Jawab Ayah Annabell.
“ Aku tidak pernah, diterangkan hal semacam itu!” Jelas Annabell.
“ Apakah iya?!, seluruh Universitas di Eropa, telah menerapkan suatu kurikulum kebudayaan, yang telah berlaku sejak 10 Juni 1994. Yang berisi penjelasan sejarah suatu negara, dan kisah rakyat yang ada!” Jawab Ayah Annabell menjelaskan dengan yakinnya. Maklumlah ayah Annabell telah 4 tahun bekerja pada departemen kebudayaan dan kependidikan Luxemburgh.
“ Benar! Aku belum pernah diajarkan akan hal itu!” Jelas Annabell penasaran.
“ Seharusnya, hal itu dipelajari pada semester 2 dan 3. Tapi entahlah, mungkin peraturan di Paris, berbeda.” Terang Ayahnya.
Setelah usai makan malam, Annabell lekas masuk kamar tidurnya, dan lekas tidur. Namun, Annabell masih kebingungan dengan materi kuliah yang belum ia terima, seperti kata ayahnya. Akhirnya Annabell menghubungi Liza.
“ Hallo, Liza?” tanya Annabell melalui Handphonenya.
“Hai, Annabell, bagaimana perjalananmu?” tanya Liza begitu perhatian.
“ Lancar – lancar saja.” Jawab Annabell.
Begitu Liza bertanya soal perjalanan, tiba – tiba Annabell teringat seorang ibu menangis, yang ia lihat dipesawat siang tadi.
“ Liza, aku ingin bertanya, apakah menurutmu, ada pesawat terbang yang berhantu?”
“ Ha?! Pesawat berhantu? Aneh…. Sepertinya aku belum pernah mendengan hal itu, yang pernah kudengar hanyalah pemakaman, dan rumah yang berhantu, tapi, kalau pesawat berhantu…. Itu terdengar sangat aneh. Omong – omong kenapa kau tiba – tiba bicara soal pesawat berhantu, ada kejadian di perjalananmu?” Jelas Liza sembari bertanya dengan penasaran.
Annabellpun menceritakan kejadian yang ia alami di pesawat siang tadi.
“ Itu mengerikan, mungkin kau kecapekan.” Jelas Liza.
“ Tapi, aku melihatnya dengan yakin bahwa itu ada!” timpal Annabell
“ memang misterius, atau mungkin ibu itu pergi ke toilet?” terang Liza.
“ Entahlah, mungkin….” Jawab Annabell tidak yakin.
“ Oh iya Liza, aku ingin bertanya, apakah kita pernah diterangkan Ilmu sejarah dan cerita rakyat.” Tanya Annabell penasaran.
“ Belum. Sepengetahuanku, Ilmu itu akan kita pelajari, di akhir semester. Tepat 1 minggu sebelum Ujian Akhir.” Jelas Liza.
“ Oh begitu, baiklah terimakasih.” Jawab Annabell lega.
“ Sama – sama “ Sahut Liza, sembari menutup pembicaraan melalui Handphone.
Annabell lekas tidur, malam itu.

***
Bandara Alexander, 4 Juli 1996
“Ibu aku berangkat.” Pamit Annabell yang akan berangkat ke Paris.
“ Hati – hati sayang, jaga keselamatanmu, semoga sukses, ibu sayang padamu.” Jawab Ibu Annabell, sembari meneteskan air mata, dan memeluk Annabell erat – erat.
Tak terasa hampir 5 bulan Annabell tinggal bersama kedua Orang tuanya, di Luxemburgh.kini saatnya bagi Annabell untuk berpamitan, 3 hari lagi, Ia akan melanjutkan kuliahnya.
“ Hati – hati di perjalanan sayang.” Ucap Ayah Annabell.
“ Aku berangkat! Selamat tinggal!” Ucap Annabell, sembari melambaikan tangan dan memasuki pesawat, yang akan segera terbang ke Paris.
“ Didalam pesawat, Annabell lagi – lagi duduk di pinggir jendela. Dia melambaikan tangan pada kedua orang tuanya, tanda perpisahan.
Pesawat lekas take off menuju Paris, Annabell terus melambaikan tangan pada kedua orang tuanya, yang lambat laun, semakin tak terlihat, dan tertutup awan, karena pesawat yang mulai terbang meninggalkan Alexander.
Tak terasa 2 jam berlalu.
“ Mohon perhatian, pesawat akan segera landing, pada Bandara Internasional Paris Prancis. Pasang sabuk pengaman anda, agar anda aman. Perjalanan telah memakan waktu 2 jam 10 menit 57 detik, sekarang jam menunjukkan pukul 9.00 waktu Prancis, waktu berselisih 1 jam dengan waktu Luxemburg . Terimakasih, telah menggunakan jasa penerbangan Luxe Airlines. Semoga hari anda menyenangkan.”
Telah terdengar informasi dari pramugari, kini saatnya pesawat turun untuk landing. Dari ketinggian itu Annabell dapat melihat menara Eiffle, yang menjulang tinggi, yang saat itu cuaca cerah sedang menyinari kota Paris.
Begitu Annabell turun dari pesawat, ia lekas menghubungi Liza, ia meminta Liza menjemputnya dibandara. Tak lama, liza datang mengendarai mobilnya. Annabell lekas memasuki mobil Liza, dan lekas pulang.
“ Cuaca yang indah.” Ucap Annabell tiba –tiba.
“ Ya, sudah 1 minggu ini Paris cerah, tak seperti biasanya.” Jawab Liza.
“ Omong – omong lama tak Rencontrer dengan Cindy. Bagaimana keadaannya sekarang.” Tanya Annabell pada dirinya sendiri.
“ Cindy?” tanya Liza.
“ Si anak misterius itu…” jawab Annabell mengingatkan.
Mendengar misterius, liza langsung teringat pada hal yang dibicarakan Annabell beberapa minggu lalu.
“ Hey, bagaimana dengan ibu misterius itu?” tanya Liza.
“ Ibu misterius?” kini Annabell yang lupa.
“ ‘hantu pesawat’” Jelas Liza.
“ Oh… itu, entahlah hingga kini aku masih belum tahu siapa dia, dan mengapa dia menangis.” Jawab Annabell.
Tak berapa lama akhirnya mereka berdua sampai di rumah Annabell.
“ Huh lelahnya!” kata Annabell.
“ Liza, aku ingin mandi, kau tunggu dulu disini.” Pinta Annabell.
“ Baiklah.” Jawab Liza singkat.
Karena jenuh, telah 20 menit menunggu Annabell mandi, liza membaca – baca surat kabar.
Tapi begitu terkejutnya Liza,
“ Annabell! Annabell! Cepatlah! Kau harus lihat ini!” teriak Liza.
“ Ada Apa! “ Annabell datang sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“ Lihat! Berita ini! Sebuah pesawat France Airlines, dengan nomor seri FA – 0887  ditemukan terjatuh dan terbakar, di Hutan Perechea, Paris. 103 penumpang , 7 pramugari dan  2 orang pilot tewas! Pihak Maskapai Paris, belum menemukan penyebab terjatuhnya pesawat!” Kata Liza, yang membaca berita itu.
“ Itu mengerikan !” timpal Annabell.
“ Ya! Sangat! Kau beruntung tak mengalami hal itu! Tak ada yang selamat satupun!” Jawab Liza lega mendapati temannya menaiki pesawat itu dengan selamat.
“ France Airlines FA – 0887?” di pesawat itu lah aku melihat seorang ibu menangis!” kata Annabell dalam hati.
***
Paris, 7 Juli 1996
Hari ini Annabell kembali kuliah, ia telah menyelesaikan skripsinya kemarin, sehingga bulan depan ia sudah menginjak semester 6. Setelah proses pembelajaran usai, Annabell memutuskan pergi ketaman, untuk sedikit bersantai. Ditaman Annabell teringat Cindy. Sudah 5 bulan ia tak bertemu Cindy, rasa rindu yang begitu mendalam, membuat Annabell tak mampu mengingat- ingat seperti apakah Cindy kini. Tiba – tiba, ditengah lamunannya, memikirkan Cindy, langit berubah gelap. Hujanpun turun. Dengan tergesa – gesa dia pulang sembari berlari. Karena tergesa-gesa, Annabell hingga lupa akan bukunya yang masih tergeletak di bangku taman. Baru berlari beberapa meter, terdengar teriakan seorang anak kecil,
“ Annabell! Bukumu tertinggal.” Seru anak itu.
Annabell terhenti, dengan tergesa – gesa dia berbalik arah dan mengambil bukunya yang telah dibawa oleh seorang anak kecil.
“ Terimakasih banyak.” Kata Annabell sembari berbalik arah lagi, dan berlari pulang.
Tiba – tiba, ia merasakan ada sesuatu yang sedikit aneh, yang baru saja terjadi.
“ Mungkinkah…..” Annabell menengok kearah belakang.
Namun bocah yang entah siapa tadi sudah tidak terlihat.
Setibanya dirumah, hujan semakin deras, sampai – sampai listrik padam.
Dengan penerangan sebuah lilin, anabel duduk termenung, di ruang tengah, sembari memikirkan hal yang baru saja terjadi.
“ Mungkinkah…. Anak itu Cindy?, tapi kenapa dia selalu muncul pada saat yang tidak tepat. Jika dia bukan Cindy? Bagaimana dia tahu namaku?!” Tanya Annabell dalam hati.
Annabell merasakan hidupnya berubah begitu bertemu Cindy. Entah apa penyebabnya, namun Annabell selalu merasa bahagia dan gembira, ketika Cindy ada disisinya.
Tak berapa lama, hujan mulai reda, Annabell berniat membeli makanan ringan untuknya, di supermarket. Annabell lekas mengendarai mobilnya, melewati taman, dan menuju Supermarket. Namun, ada suatu peristiwa yang terjadi ditaman. Sebuah mobil menabrak pohon, yang berada dipinggir jalan. Annabell begitu terkejut, melihat mobil yang rusak parah itu, Annabell lekas turun, dan bertanya pada seorang polisi yang berada di tempat kejadian perkara.
“ Permisi pak, apa yang terjadi?” tanya Annabell penasaran.
“ Seorang ibu mengendarai mobil dan menabrak pohon ini. Ibu itu berkata, dia lepas kendali, dan membanting stir.” Jelas Pak Polisi.
“ Ibu itu selamat?! Syukurlah, dimana ibu itu sekarang?” tanya Annabell lagi.
“ Itu, beliau duduk dibangku taman.” Jawab Pak Polisi sembari menunjuk, seorang ibu yang duduk menangis, dibangku taman.
“ Terimakasih Pak.” Ucap Annabell.
Memang, dari dulu Annabell selalu merasa iba pada korban kecelakaan, sehingga dia selalu berusaha menghibur para korban agar lebih tenang.
“ Selamat siang ibu,?” Sapa Annabell.
“ Selamat siang.” Jawab ibu itu lirih, ditengah tangisnya.
Namun begitu terkejutnya Annabell, ketika mendapati bahwa ibu korban kecelakaan itu adalah Nyonya Teresa, yang beberapa bulan lalu membarengi Annabell di Pesawat penerbangan menuju Luxemburgh.
“ Nyonya Teresa! Ternyata Anda, apa yang terjadi?!” Tanya Annabell spontan sedikit terkejut, mendapati ibu itu adalah Nyonya Teresa.
“ Kau… Annabell?” tanya Nyonya Teresa juga terkejut, tanpa menjawab pertanyaan Annabell.
“ Ya saya Annabell, sebenarnya apa yang terjadi, hingga mobil Anda menabrak sebuah pohon?” Tanya Annabell penasaran.
“ Tadinya aku berencana pergi ke Menara Eiffle, ketika melewati Cromlech, tiba – tiba aku melihat seorang wanita berambut cokelat, mengenakan gaun putih yang tiba – tiba saja duduk di kursi mobil belakang. Aku sangat terkejut, hingga sempat memberhentikan mobilku, beberapa saat. Setelah merasa itu hanyalah imajinasiku, aku lekas melajukan mobilku lagi. Namun, begitu sampai taman ini, aku melihatnya lagi secara mendadak dia menyebrang jalan. Sehingga aku terkejut dan membanting stir, dan akhirnya mobilku menabrak pohon itu.” Jelas Nyonya Teresa panjang lebar.
“ Wanita, berambut coklat, bergaun putih?!” Tanya Annabell meyakinkan.
“ Ya.” Jawab Nyonya Teresa singkat.
“Apa mungkin wanita itu yang aku lihat di pesawat?” batin Annabell.
“ Apakah wanita itu menangis?” tanya Annabell.
“ Ya dia nampak sedih dan kebingungan.” Jelas Nyonya Teresa.
“ Baiklah kalau begitu, maaf aku terburu – buru, aku harus pergi.” Pamit Annabell
Annabell langsung menlajukan mobilnya, menuju rumah sahabatnya, Liza.
“ tok….tok…tok….” Annabell mengetuk pintu.
“ Masuklah!” jawab Liza dari dalam.
“ Hai Liza, ada hal penting yang harus aku bicarakan!” jelas Annabell tiba – tiba.
“ Lihatlah berita di televisi ini! Sebuah mobil, menabrak pohon di pinggir taman.” Jelas Liza memberi Informasi.
“ Aku sedah tau hal itu.” Jawab Annabell.
“ Hingga saat ini pihak polisi masih mencari penyebab korban yang membating stir….” Lanjut Liza.
“ Aku tahu penyebabnya!” timpal Annabell, mengejutkan Liza.
“ Ha?! Dari mana kau tahu?!” tanya Liza penasaran.
“ Barusan aku sempat bertanya – tanya soal terjadinya kecelakaan mobil itu, pada Nyonya Teresa.” Jelas Annabell.
“ Nyonya Teresa?” tanya Liza, yang merasa tak mengenal Nyonya Teresa.
“ Ya seorang ibu paruh baya, yang pernah menaiki pesawat bersamaku, menuju Luxemburgh beberapa bulan lalu.” Jelas Annabell lagi.
“ Bagaimana Kejadiannya?!” Tanya Liza yang masih saja penasaran.
Annabell menceritakan apa yang diceritakan oleh Nyonya Teresa siang tadi, kepada Liza.
“ Wanita bergaun putih, berambut cokelat!” Tanya Liza penasaran.
“ Bukankah makhluk itu yang kau lihat di pesawat?!” Tanya Liza lagi.
“ Ya, oleh karena itu, pertanyaannya, siapakah wanita bergaun putih itu?!” timpal Annabell yang masih saja penasaran.
“ Hantukah?!” tebak Liza tiba – tiba.
“ Entahlah mungkin saja iya…” Jawab Annabel sedikit meyakinkan.
“ Astaga! Sudah pukul 5! Aku harus segera membeli makanan ringan di supermarket! Aku pamit, sampai jumpa!” Kata Annabell tiba –tiba sembari berpamitan pada Liza.
***
Paris, 1 Agustus 1996
Pagi yang cerah, Annabell melajukan mobilnya menuju kampus. Pagi ini Annabell sangat bersemangat. Hal itu dikarenakan, Pagi ini ia memasuki semester 7. Itu berarti Mata Pelajaran budaya dan cerita rakyat yang selama ini selalu dia nanti, akan segera dibahas.
Begitu ia melewati taman kota, tiba – tiba ia teringat Cindy, tak terasa sudah setengah tahun, dia tak bertemu Cindy. Ia sampai lupa seperti apakah wajah Cindy.
Sesampainya di sekolah, Annabell lekas menemui Liza, dan memberitahukan materi pelajaran kali ini. Namun Liza sudah mengetahuinya,
“ Aku tahu, ada 7 kisah rakyat yang akan kita pelajari, Mercusuar Berhantu, Misteri Eiffle, Teluk Tengkorak, Natal yang kelam, Si Kerudung Merah, John Raksasa Samudra, dan….” Jelas Liza.
“ Kring….. kring…. Kring…..” terdengar bunyi bel.
“ Oh…. Aku belum mengambil buku sejarah di perpustakaan! Kau duluan saja, aku akan menyusulmu!” pinta Liza tiba – tiba, tanpa melanjutkan penjelasannya.
Bel berbunyi, pertanda pelajaran dimulai. Seorang Dosen paruh baya, yang terkenal sangat ramah bernama Nyonya Fransisca, memasuki ruangan, dan menyapa para Mahasiswanya.
“ Bonjour! Elle n’est pas si gentile que sa soeur!” sapa Nyonya Fransisca dengan bahasa Prancisnya yang fasih.
Mendengar perintahnya, mahasiswa mulai membuka halaman 56, dari Buku Pelajaran Budaya dan Cerita Rakyat.

“ Baiklah kita mulai pelajaran kali ini, sebelumnya saya ucapkan selamat memasuki jenjang semester akhir, yang mana, 1 bulan lagi Anda sekalian akan diwisuda. Besar harapan saya, agar kalian bersungguh – sungguh mendalami ilmu yang selama ini anda geluti, yaitu Sastra Perancis. Sebenarnya, seluruh Universitas di Eropa, telah menerapkan suatu kurikulum kebudayaan, yang telah berlaku sejak 10 Juni 1994. Yang berisi penjelasan sejarah suatu negara, dan kisah rakyat yang ada, yang umumnya dipelajari pada semester 3. Namun, peraturan Departemen Kependidikan Paris, mengubahnya menjadi Ilmu wajib pada semester akhir. Marilah kita mulai.” Jelas Nyonya Fransisca Panjang lebar, seperti yang dikatakan Ayah Annabell beberapa bulan lalu.

“ Kita masuk pada kebudayaan…” Nyonya Fransisca mulai menerangkan.

Annabell selalu teringat oleh Cindy, sebenarnya dimanakah Cindy tinggal, andai saja Annabell tahu, tentu ia tak akan serindu ini.
40 menit berlalu. Kini saatnya materi memasuki Cerita Rakyat.
“ Kita memasuki cerita rakyat. Prancis memiliki banyak kisah rakyat. Namun yang akan kita bahas, hanya 7 kisah yang terkenal saja…. Yang pertama.”

Annabell memperhatikan materi yang diberikan Nyonya Fransisca, dengan saksama. Ia tak ingin melewatkan satu kisahpun. Karena bagi Annabell suatu cerita rakyat, adalah suatu dongeng indah baginya.

“ Yang ke – 6, John, raksasa Samudra. Kisah ini berkembang setelah terjadinya revolusi Prancis. Kisah ini menceritakan….” Bu Fransisca terus menerangkan.

“Dan yang tak kalah terkenal, yang terakhir adalah, Cindy si misterius dalam kabut.” Jelas Nyonya Fransisca, mengejutkan Annabell.

“ Cindy, si misterius dalam kabut?!” Tanya Annabell dalam hati.

Meneritakan seorang Anak kecil, berusia 7 tahun, yang bernama Cindy. Konon, suatu hari, Cindy, dan Ibunya, Nyonya Eston, akan berngkat menuju Belanda, menaiki pesawat terbang. Ketika mereka hampir ketinggalan pesawat, Nona Eston berlari kecil. Namun Cindy, anaknya malah menuju taman dan bermain dengan seekor kucing yang lucu. Begitu ibunya sudah berada didalam pesawat, dan pesawat telah mengudara, Nyonya Eston baru tersadar bahwa, Cindy anaknya, tidak ikut serta. Nyonya Eston, sangat terkejut, mendapati putri semata wayangnya, tertinggal di Paris. Nyonya Eston hanya dapat menangis, sepanjang perjalanan udara itu. Hingga akhirnya pesawat yang dinaiki Nyonya Eston, mengalami kecelakaan maut, pesawat itu kehabisan bahan bakar, yang terjun bebas, terjatuh dan meledak. seluruh orang yang menaikinya tewas, termasuk Nyonya Eston. Mulai sejak itu, dikisahkan Roh Nyonya Eston yang menangis, selalu terlihat ditengah – tengah penumpang pesawat. Di kisahkan Roh Nyonya Eston bergentayangan, mencari Anaknya Cindy. Namun di kisahkan Cindy telah tewas, tertabrak sebuah mobil di pinggiran taman. Hingga kini, diceritakan Roh Nyonya Eston membalas dendam pada setiap mobil yang melaju di pinggir taman Paris, dengan membuat mobil itu mengalami insiden yang tak terduga.Cindypun juga dikisahkan menjadi Roh gentayangan, yang selalu menghibur orang yang menangis ditaman itu. Kata banyak orang, Cindy akan muncul ditaman Paris, ketika cuaca sedang tidak bersahabat, yaitu ketika langit kelam, turun hujan, dan suasana kota yang berkabut, saat itulah Roh Cindy datang ke dunia, untuk menghibur orang – orang yang menagis ditaman itu. ‘mentari tak pernah lelah dan berputus asa, walaupun awan kelam yang jahat itu menutupi cahayanya.’ Itulah konon kalimat yang sangat sering diucapkan Cindy. Hingga kini kisah itu belum terbukti ada.” Bu Fransisca terus menjelaskan panjang lebar.

“ Kisah itu belum terbukti…?! Kisah itu, membuktikan jawaban beberapa kejadian! ” Batin Liza, sembari mengamati Annabell.

Annabell hanya terdiam terpaku, mendengar kisah rakyat itu.

“ Itu berarti……” Batin Annabell dalam hati.



                                                               Bersambung ....